Memunguti mutiara kehidupan

Kekuasaan dan Kemaslahatan

DUA kata dalam judul tulisan di atas sangat erat hubungannya dalam istilah politik. Merujuk kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata kekuasaan mengandung arti yaitu kemampuan orang atau golongan untuk menguasai orang atau golongan lain berdasarkan kewibawaan, wewenang, karisma, atau kekuatan fisik. Sedangkan kata kemaslahatan mengandung makna kegunaan; kebaikan; manfaat; kepentingan.

Pemlik kekuasaan yang sebenarnya ialah Allah Subhanahu wa Ta'ala. Semua yang ada di alam ini adalah hasil ciptaanNya. Kemudian untuk mengelola dan memakmurkan alam semesta, Dia menjadikan manusia sebagai penguasa. Dengan demikian kekuasaan manusia di bumi bukanlah kekuasaan yang mutlak, akan tetapi kekuasaan itu di bawah kendaliNya dan kehendakNya. Sehingga tidaklah layak dan pantas bagi manusia untuk adigung adiguna di hadapan manusia lainnya terlebih di hadapanNya.

Cinta kekuasaan adalah bagian dari watak manusia. Itu ada karena manusia selain dibekali akal pikiran juga diberi hawa nafsu. Hanya saja volume hasrat kekuasaan satu sama lain sangat variatif, dari mulai yang lemah hingga kuat. Maka tidaklah aneh di dunia ini bila banyak orang yang berlomba merebut kekuasaan dalam berbagai level kehidupan. Mereka beradu kecepatan untuk mencapainya dengan caranya masing-masing.

Baik dan buruknya cara menempuh kekuasaan sangat dipengaruhi oleh niat (orientasi) nya. Bila orinetasinya baik maka cara yang digunakan adalah cara yang benar dan berusaha mejauhkan diri dari pelanggaran terhadap aturan agama dan norma. Namun bila orientasinya jelek, cara apapun akan dilalui, disusuri, dan dilintasi dengan kata lain menghalalkan segala cara demi mencapai kekuasaan yang didambakan, seolah tak ada ruang intervensi bagi aturan agama dan norma.

Dua orientasi di atas akan menghasilkan dua hal yang berbeda. Orientasi yang baik akan melahirkan kemaslahatan bagi ummat manusia. Sedangkan orintasi yang jelek akan menimbulkan kerusakan di mana-mana. Tentu semua orang yang berakal sehat mendambakan hadirnya penguasa yang amanah dan mampu membawa kemaslahatan bagi mereka.

Kekuasaan demi Kemaslahatan

Selama ini banyak orang beranggapan bahwa kekuasaan itu sarat dengan kesewenang-wenangan, kezaliman, ketidakadilan, dan kekejaman. Penyebab utama munculnya sangkaan demikian adalah adanya perilaku manusia/penguasa itu sendiri yang mencerminkan sifat-sifat yang disebutkan. Padahal kekuasaan itu bila ada pada tangan manusia yang baik niscaya akan melahirkan kemaslahatan yang besar bagi ummat manusia.

Bila kekuasan dipegang oleh orang saleh, maka akan manusia akan memperoleh kemaslahatan. Penguasa saleh dalam menjalankan kekuasaannya akan berupaya memerankan fungsinya sebagai penjamin hadirnya kemaslahatan bagi semua rakyatnya. Kemaslahatan yang dimaksud adalah tegaknya keadilan, terwujudnya kesejahteraan, tersebar luasnya kebaikan, terjaminnya keamanan, tercegahnya kemungkaran, terlempar jauhnya rasa kecemasan dan ketakutan.

Kekuasaan dapat memperluas raung lingkup kemaslahatan. Contoh dalam menumbuh kembangkan kebaikan, bila seseorang menyeru manusia agar memiliki rasa peka terhadap sesama dengan mengeluarkan infak/sedekah, maka yang mendengar seruan tersebut hanyalah orang yang ada di sekitarnya saja. Namun bila yang menyeru itu adalah seorang penguasa/pemimpin, maka cakupan seruan tersebut akan lebih luas.

Contoh lain dalam hal mencegah/menindak kemungkaran, bila seseorang melarang suatu tindak kejahatan maka pelaku kejahatan yang ada di hadapannya sajalah yang akan meresponsnya. Akan tetapi bila seorang panglima TNI/Polri yang melakukan tindakan pencegahan/penindakan tersebut, maka cakupan kemasalahatan yang dihasilkannya tentu akan lebih luas. 

Dengan demikian kekuasaan mutlak diperlukan untuk memperluas ruang lingkup kemaslahatan bagi ummat manusia bukan untuk berbuat kesewenang-wenangan dan kezaliman.

Gambar: http://www.islampos.com




@



0 komentar:

Posting Komentar - Kembali ke Konten

Kekuasaan dan Kemaslahatan