Memunguti mutiara kehidupan

Mari benahi pendidikan di Indonesia

Belum lama ini kita dikejutkan dengan adanya video adegan kekerasan pelajar sekolah dasar di Bukittinggi yang diunggah di youtube. Tampak dalam video hasil jepretan smartphone yang berlangsung lebih kurang dua menit itu sejumlah pelajar tengah memukuli, menerjang, dan menendang teman sekelasnya, pelajar perempuan yang memojok di sudut ruangan kelas. Korban pun menangis sedih sambil menahan rasa sakit akibat hantaman dan tendangan yang bertubi-tubi. Duhai, malang nian anak perempuan itu menjadi bulan-bulanan kawannya.

Alangkah keterlaluan. Betapa menyesakkan dada dan menyayat perasaan. Dan sungguh ironis, peristiwa ini berlangsung di dalam ruang kelas tempat di mana mereka belajar ilmu pengetahuan; berlatih meniti keluhuran akhlak dan kepribadian. Lantas, mengapa hal ini mesti terjadi? dan siapa yang dianggap paling bertanggung jawab atas peristiwa memilukan tersebut?

Demi masa depan pendidikan anak Indonesia, semua pihak seyogianya ikut terlibat dan mencermati kasus ini secara integral. Melakukan penelitian yang tidak hanya berhenti pada penggalian informasi tentang kronologis kejadiannya, lalu memberi peringatan atau tindakan terhadap pihak-pihak yang dianggap paling bertanggung jawab semata. Semua bekerja sama melakukan langkah nyata untuk membenahi dan meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia.

Guru sebagai pelaksana pendidikan yang lansung berhadapan dengan siswa-siswi di sekolah adalah pihak yang paling banyak mengabil hikmah dari kejadian ini. Seyogianya mereka mengerahkan segenap keahlian, kemampuan, dan kecakapan yang dimiliki untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sehingga terlahir sumber daya manusia yang berkarakter.

Orang tua tidak melepas tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya ke pihak sekolah sebagai penyelenggara pendidikan formal. Namun, mereka seyogianya secara aktif bekerja sama dengan guru atau pengajar dalam mengawal dan mengevaluasi perkembangan anaknya demi tercapainya tujuan pendidikan sesuai yang diharapkan.
   
Pemerintah dalam hal ini kementerian pendidikan agar selalu mengevaluasi dan memperbaiki sistem pendidikan yang ada serta memantau pelaksanaannya di lapangan oleh para praktisi pendidikan di semua tingkatan. Bekerja keras menyempurnakan kurikulum pendidikan yang berbasis karakter, bukan hanya sebatas transfer ilmu pengetahuan yang tak berpengaruh pada semakin baiknya akhlak kepribadian.

Para pemilik media seyogianya peka dan peduli terhadap pendidikan di Indonesia. Memperbanyak tayangan mendidik bagi semua kalangan baik anak-anak, remaja, maupun dewasa. Tidak lagi berorientasi bisnis semata dan mengenyampingkan nilai-nilai agama serta norma sosial. Sebab, diakui atau tidak, tayangan-tayangan yang disuguhkan saat ini, banyak yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama dan norma social. Dan, itu punya andil besar terhadap terjadinya kemerosotan moral masyarakat dai waktu ke waktu.
Cukuplah kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak; guru, orang tua, pemerintah, pemilik media, dan kita semua. Semoga kejadian memilukan dan memalukan serupa tak terulang lagi di negeri ini. Mari benahi pendidikan di Indonesia.

Gambar: almasakbar45.blogspot.com



@



0 komentar:

Posting Komentar - Kembali ke Konten

Mari benahi pendidikan di Indonesia